<$BlogRSDUrl$>

Friday, May 27, 2005

Adikku, Pacarku 

Wiwin, kukenal nama itu lewat chatting di internet. Ku ketahui dia berasal dari kota P di Jawa Tengah sana.
Kami sering ber-chatting ria. Wiwin, memang selalu enak untuk diajak diskusi. Hampir dalam segala hal, dia tahu. Setahun yang lalu, dia pindah ke kota B di daerah Jawa Barat. Karena jarak yang cukup dekat denganku, akhirnya kami berjanji untuk saling bertemu di daerah K di Jakarta. Dari pertemuan itu aku mengenal Wiwin lebih jauh.
Wiwin kuliah di salah satu universitas terkemuka di kotanya.
Wiwin secara fisik biasa saja. Ukuran badannya kira-kira setinggi 160 cm. Tubuh agak bungkuk udang, memiliki rambut panjang terurai. Namun ada yang menarik dari penampilannya, payudaranya! Payudaranya terlihat unik dan menantang. Aku hanya menelan ludahku bila tanpa sengaja mengintip bagian yang menggunung itu.
Wiwin memintaku untuk mengangkatnya sebagai "adik", sedangkan aku diangkatnya sebagai "abang"! Karena dia bilang, Wiwin tidak memiliki kakak. Aku setuju-setuju saja.
Pertemuan kedua dan selanjutnya kami semakin 'terbuka'. Aku-pun sudah 'diizinkan' untuk memegang payudaranya yang unik itu. Hanya saja dia bilang "dasar, abang nakal!!" aku hanya tersenyum...
Kalau sudah dibilangin begitu, maka akupun kadang lebih berani lagi. Tanganku menjelajah ke daerah terlarangnya....

Seminggu yang lalu aku menjenguknya di daerah P. Walau dengan mengendarai motor bututku, aku sampai juga ke rumahnya setelah berjalan selama beberapa jam dari rumahku.
Kulihat kegembiraan yang amat sangat, saat dia tahu bahwa aku yang datang. Memang sudah dua bulan aku tidak main ke rumahnya. Dia sudah kangen, tampaknya... Pada saat membukakan pintu Wiwin memakai daster putih, Terlihat cukup jelas, pepayanya yang unik menerawang dari balik sangkarnya. Wiwin menyilahkanku duduk dan berbalik sebentar ke dapur untuk kemudian kembali lagi dengan membawakanku segelas minuman dingin.

Setelah ngobrol ngalor ngidul. Wiwin menyandarkan wajahnya ke dadaku...
Aku menyambut dengan tenang. Karena memang tujuanku ingin mencoba menuntaskan hasratku yang ada selama ini, dengannya. Kutundukkan mukaku untuk menjangkaunya. Aku menciumnya. Kususuri dengan bibirku.
Dari kening, ciumanku turun ke alis matanya yang hitam lebat teratur, ke hidung dan sampai ke bibirnya. Ciuman kami semakin lama semakin bergelora, dua lidah saling berkait diikuti dengan desahan nafas yang semakin memburu. Tanganku yang tadinya memeluk punggungnya, mulai menjalar ke depan, perlahan menuju ke payudaranya yang cukup besar dan unik. Unik karena bentuk payudaranya yang memanjang dan besar, mirip dengan buah pepaya. 'Adikku' ini pintar juga memilih daster yang berkancing di depan dan hanya 4 buah, mudah bagi tanganku untuk membukanya tanpa harus melihat. Tidak lama kemudian kaitan BH-nya berhasil dilepaskan oleh tanganku yang sudah cukup terlatih ini. Kedua bukit kembar dengan puncaknya yang coklat kemerahan tersembul dengan sangat indah. Daster dan BH itupun segera terlempar ke lantai.

Sementara itu, Wiwin juga telah berhasil membuka kancing celana jeanku, lalu berusaha melepas t-shirt yang aku pakai. Aku tetap menjaga agar Wiwin tidak memelorotkan celana jeanku. Bukan apa-apa, ini kan di rental komputernya? hehehe...

Kulepaskan ciumanku dari bibirnya, menjalar ke arah telinga, lalu desahkan erangan-erangan lembut. Dia tersenyum dan menatapku sambil terus melanjutkan pengembaraannya menelusuri 'senjataku'. Kulanjutkan ciumanku ke lehernya, turun ke dadanya, lalu dengan amat perlahan, dengan lidah kudaki bukit indah itu sampai ke puncaknya. Kujilati dan kukulum puting susunya yang sudah mengacung keras. Wiwin mulai mendesah dan meracau tidak jelas. Sempat kulihat matanya terpejam dan bibirnya yang merah indah itu sedikit merekah. Sungguh merangsang. Tanganku mengelus, meremas dan memilin puting di puncak bukit satunya lagi. Aku tidak ingin buru-buru, aku ingin menikmati detik demi detik yang indah ini secara perlahan. Berpindah dari satu sisi ke sisi satunya, diselingi dengan ciuman ke bibirnya lagi, membuatnya mulai berkeringat. Tangannya semakin liar mengacak-acak rambutku, bahkan kadang-kadang menarik dan menjambaknya, yang membuat nafsuku semakin bergelora. Apalagi suaranya yang meracau itu....

Dengan berbaring menyamping berhadapan, kulepaskan celana dalamnya. Satu-satunya kain yang masih tersisa. Perlakuan yang sama kuterima darinya, Wiwin melepaskan celana jeanku. Aku tidak menolak, sebab akupun ingin menuntaskan semuanya. Wiwin dengan bersemangat mengocok 'sang pusakaku' itu, membuat semakin mengeras dan mengacung gagah. Kubelai kakinya sejauh tanganku bisa menjangkau, perlahan naik ke paha. Berputar-putar, berpindah dari kiri ke kanan, sambil sekali-sekali seakan tidak sengaja menyentuh gundukan berbulu yang tidak terlalu lebat tapi terawat teratur. Sementara Wiwin rupanya sudah tidak sabar, dibelai dan digenggamnya kemaluanku, digerakkan tangannya maju mundur. Nikmat sekali. Walaupun hal itu sudah sering kurasakan dalam kencan-kencan liar kami selama beberapa saat sejak aku berkenalan dengan Wiwin, tetapi kali ini rasanya lain. Pikiran dan konsentrasiku tidak lagi terpecah.

Melalui paha sebelah dalam, perlahan tanganku naik ke atas, menuju ke kemaluannya. Begitu tersentuh, desahan nafasnya semakin keras, dan semakin memburu. Perlahan kubelai rambut kemaluannya, lalu jari tengahku mulai menguak ke tengah. Kubelai dan kuputar-putar tonjolan daging sebesar kacang tanah yang sudah sangat licin dan basah. Tubuh Wiwin mulai menggelinjang, pinggulnya bergerak ke kiri-ke kanan, juga ke atas dan ke bawah. Keringatnya semakin deras keluar dari tubuhnya yang wangi. Ciumannya semakin ganas, dan mulai menggigit lidahku yang masih berada dalam mulutnya. Sementara tangannya semakin ganas bermain di kemaluanku, maju-mundur dengan cepat. Tubuhnya mengejang dan melengkung, kemudian terhempas ke tempat tidur disertai erangan panjang. Orgasme yang pertama telah berhasil kupersembahkan untuknya. Dipeluknya aku dengan keras sambil berbisik, "Ohhh, nikmat sekali. terima kasih sayang."

Aku tidak ingin istirahat berlama-lama. Segera kutindih tubuhnya, lalu dengan perlahan kuciumi dia dari kening, ke bawah, ke bawah, dan terus ke bawah. Deru nafasnya kembali terdengar disertai rintihan panjang begitu lidahku mulai menguak kewanitaannya. Cairan vagina ditambah dengan air liurku membuat lubang hangat itu semakin basah. Kumainkan klitorisnya dengan lidah, sambil kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang padat berisi. Tangannya kembali mengacak-acak rambutku, dan sesekali kukunya yang tidak terlalu panjang menancap di kepalaku. Ngilu tapi nikmat rasanya. Kepalanya terangkat lalu terbanting kembali ke atas bantal menahan kenikmatan yang amat sangat. Perutnya terlihat naik turun dengan cepat, sementara kedua kakinya memelukku dengan kuat.

Beberapa saat kemudian, ditariknya kepalaku, kemudian diciumnya aku dengan gemas. Kutatap matanya dalam-dalam sambil meminta ijin dalam hati untuk memasukkan pusakaku ke liang kenikmatannya. Tanpa kata, tetapi sampai juga rupanya. Sambil tersenyum sangat manis, dianggukkannya kepalanya.

Perlahan, dengan tangan kuarahkan kemaluanku menuju ke kewanitaannya. Kugosok-gosok sedikit, kemudian dengan amat perlahan, kutekan dan kudorong masuk. Terasa sekali kalau daerah terlarang itu sudah basah dan mengeluarkan banyak cairan. Kudorong perlahan... dan terasa ada yang menahan tongkat pusakaku. Wow...! Wiwin ini masih perawan rupanya. Kulihat dia meringis, mungkin kesakitan, tangannya tanpa kusangka mendorong bahuku sehingga tubuhku terdorong ke bawah. Kulihat ada air mata meleleh di sudut matanya. Aku tidak tega, aku kasihan! Kupeluk dan kuciumi dia. Hilang sudah nafsuku saat itu juga.

Wiwin tahum aku kecewa. Karena itu dia cepat mendekapku. Dan tiba-tiba dengan ganasnya, dia melumat dan mengulum senjataku yang mulai mengendur.
"Argh... " aku mendesis...! Ternyata sedotan demi sedotan dari Wiwin mendatangkan kenikmatan yang luar biasa...
Aku membiarkan saja, apa yang dilakukan Wiwin. Kulihat Wiwin dengan rakusnya telah melahap dan mengulum kemaluanku yang sudah kembali membesar dan sangat keras. Nikmat tiada tara. Tapi, aku kesulitan untuk melakukan oral terhadapnya dalam posisi seperti ini. Jadi kuminta dia telentang di tempat tidur, aku naik ke atas tubuhnya, tetap dalam posisi terbalik. Aku pernah beberapa kali melakukan hal yang sama dulu, tetapi rasa yang ditimbulkan jauh berbeda. Hampir bobol pertahananku menerima jilatan dan elusan lidahnya yang hangat dan kasar itu. Apalagi bila dia memasukkan kemaluanku ke mulutnya seperti akan menelannya, kemudian bergumam. Getaran pita suaranya seakan menggelitik ujung kemaluanku. Bukan main nikmatnya.
Larva panas hampir tidak tertahankan lagi, aku memberi isyarat padanya untuk menghentikan emutannya...

* Wiwin, bila kau baca. Ini adalah cerita tentang kita. Walau kau anggap aku abang dan aku menganggapmu gadis mungil yang nakal, tetapi dalam banyak hal kita bisa saling berbagi...*

Wednesday, May 04, 2005

Nikmatnya Asmara 

Bunyi nada HPku berbunyi saat aku sedang tidur-tiduran di kamar kost-ku. Kulihat sebuah nama, Mira!
Hmm... aku jadi teringat dengan pemilik nama itu. Seorang gadis mungil yang aku kenal dua tahun yang lalu. Aku mengenalnya karena kesalahan nomor telepon yang aku putar.
"Halo..." Aku menjawab.
"Halo, Gala ya?" Mira seperti ragu dengan suaraku.
"iya, kenapa Mir?"
"La, ke rumah ya?! Aku ada perlu nih..."
Wah, kebetulan nih, fikirku. Aku lagi bete, seharian tidur-tiduran doang di kamarku yang sempit.
"Ok...! Aku kesana. Sekarang?" jawabku.
"lah, iya lah, masak bulan depan, sih...?" kata-kata Mira terdengar merajuk.
"Ok deh... aku meluncur ya.?"
"Ok, bai..."
"bai..."

Satu jam kemudian ( di rumah Mira, di Perumahan xxx Indah di Kota T )
"Ada apa, Mir? Kayaknya ada perlu banget..." Tanyaku setelah aku duduk dan minum juz jeruk yang dia sediakan. Oh iya, sebagai tambahan, Mira ini profesinya adalah pembantu di rumah itu. Terlahir dari dari keluarga sederhana di daerah Kabupaten SK di selatan sana. Dia sudah tiga tahun ikut menjadi pembantu di rumah itu. Pemilik rumah, adalah orang Manado dan Bandung. Tapi, masing-masing jarang pulang, karena pekerjaan mereka.
"Aku bete La... Kamu mau kan nemanin aku?" Jawabnya Mira.
Ow ow....!
Aku tersenyum. Berarti, aku bisa nyetor nih... bathinku. :)
"Mau dong! Kalo nggak, tentu aku nggak ke sini, iya kan?"
Mira tidak menjawab, hanya menyunggingkan senyumannya padaku.
Sejenak aku memperhatikan Mira.
Mira bodi-nya biasa saja. Tinggi kira-kira 150 cm, perawakan sedang. Payudaranya cukup membusung, kekar! dengan ukuran 34B. Wajahnya bersih, putih, dengan satu dua jerawat yang menempel di pipinya. Cukup menarik lah. Dia memakai kacamata, karena matanya sudah minus.
Dulu, 3 tahun yang lalu, Mira pernah menikah. Tapi, perkawinannya cuma berlangsung 1 bulan. Mereka bercerai.

Mira yang tadi duduk di sofa yang berseberangan denganku, perlahan beranjak mendekat. Lalu dengan santainya duduk di sampingku.
"Mulai nih..." fikirku.

Sebelum Mira berkata apa-apa, aku berdiri dan berjalan ke arah pintu. Aku melihat ke sekeliling, untuk memastikan tidak ada orang yang berada di depan rumah itu.
Aman pikirku, tak ada seorang pun. Jadi aku bisa leluasa melaksanakan hasratku dan hasratnya. Saat aku berbalik menuju tempat dudukku, dari jauh aku sudah melihat senyumannya yg merangsang birahiku. Sepertinya dia memang sengaja menarik perhatianku.

Setelah duduk, tangan Mira langsung mengulurkan tangannya, akan memelukku. Aku tidak menolak, toh aku juga mau. Dengan pelan kutundukkan kepalaku mencium bibir Mira. Mirahpun menjemput dengan penuh gairah. Kami saling bermain lidah cukup lama, sampai kami kesulitan bernafas. Kedua bibir kami berpagut sangat erat. Desahan Mira membuatku semakin hot menciumnya. Aku mulai menggerakkan tanganku menuju ke pantatnya, kuraba dengan lembut, dan dengan gemas kuremas pantatnya. Kemudian aku mencoba untuk menggapai bagian rahasianya melalui celana panjangnya, yang reseletingnya sudah aku turunkan. Kugosok-gosok dengan jariku sampai dia mengerang kenikmatan. Aku

panik kalau erangannya terdengar ke luar. Setelah kuberi tahu dia mengerti dan mengecup bibirku sekali lagi. Usapanku membuat cairan dibagian sensitifnya itu membasahi celananya. Karena dia memakai celana bahan, maka cairannya juga membasahi tanganku.
"sssshhhhtthttt... gilaaaaaa, enak banget. Ehmmmm...." Desah Mira.

Aku melepaskan ciumanku dan berpindah menciumi lehernya yg putih mulus. Lehernya yg harum membuatku makin gencar menciumi lehernya. Mata Mira terlihat mendelik dan menengadahkan mukanya ke atas merasakan kenikmatan. Tangannnya mulai berani unttk meremas dan menggosok pelan senjataku yg mulai mengeras. Enak sekali pijitannya, membuatnya semakin berdenyut-denyut....

Dua Jam kemudian.
Tubuhku terlempar di ranjang Mira. Pergulatan tadi cukup memakan energiku. Apalagi Mira benar-benar seperti kuda liar saat bergumul denganku.
Kulihat Mira di sampingku tertidur pulas. Tersungging senyum di sudut bibirnya. Dia puas, setelah tiga kali orgasme.
Aku beranjak, mengambil pakaianku yang berserakan dan merapikan penampilanku.
Setelah menghabiskan minumanku yang masih tersisa di meja tamu, dengan motor bututku aku pulang tanpa pamit dengan Mira yang masih tertidur...

Kisah ini terjadi delapan bulan yang lalu. Ingin berbagi pengalaman? kirim ke imel saya... Saya tunggu..

Friday, February 04, 2005

Jangan Kau Toreh Hatiku 

Terkadang hatiku tidak tegar, bila diminta untuk melepaskanmu. Aku menjadi begitu sendu, terbawa kepada semua kenangan tentang kita. Engkau tahu, perjalanan kita bukan hanya satu dua hari saja, atau satu dua minggu saja. Perjalanan kita sudah lebih dari 4 tahun!
Kisah kita telah begitu panjang terukir dalam catatan buku harian kita. Telah begitu banyak meninggalkan kenangan dalam buku asmara dalam jiwa kita. Telah begitu panjang kenangan itu.
Lalu engkau menginginkan kita berpisah, mengakhiri segalanya?

Engkau telah memenuhi seluruh relung hatiku, sepertinya tidak ada lagi tempat bagi yang lain.
Aku telah terbiasa mendengar suara candamu, dikala malam
Aku telah terbiasa mendengar ucapan lembut yang berkata 'apa kabar' hanih?
Lalu engkau memaksaku untuk melepaskanmu?
Jangan! Jangan lakukan itu wahai gadisku. Kumohon.
Aku 'merasa' tidak sanggup bila harus melepaskanmu.

Monday, January 10, 2005

Dinda Dimanakah Kau Berada? 

Minggu yang lalu, engkau katakan ingin bicara dua mata padaku. Hanya kita berdua, engkau dan aku. Engkau ingin menuntaskan apa yang menjadi ganjalan di hatimu. Kemarin, hari Minggu, hari yang engkau katakan ingin bicara padaku itu, ternyata berlalu tanpa angin berita darimu. Janji itu, seperti hanya janji manis semata... :((

Wednesday, January 05, 2005

Surat Terbuka Untuk Kekasih Yg Menduakanku 

Ketika kata tiada lagi dapat menahan tindakan, ketika tiada lagi yang bisa merubah suatu keputusan, ketika perpisahan menurutmu menjadi satu-satunya jalan, saat itu aku menyadari bahwa tampaknya kita harus berjalan dengan rel kita sendiri-sendiri. Kita harus meniti jalur kita sendiri-sendiri. Kamu dengan pilihan dan keputusanmu, dan aku berjalan dengan pilihan dan keputusan yang engkau berikan. Tidak adil memang. Ini semua terjadi karena pilihan dan keputusanmu, sementara aku tidak bisa menentukan apa-apa untuk membuat pilihan dan keputusan 'tentang kita ini'. Aku berada pada kondisi yang tidak diberikan 'hak' untuk memilih dan memutuskan.
Tapi, sudahlah...
Mungkin ini sebenarnya juga bukan pilihan buat kamu, dan kamu mungkin hanya melakukan apa yang menurutmu harus dilakukan. Begitupun aku - walau aku tidak membuat keputusan dan tidak pula memilih tentang apa yang harus engkau dan aku lakukan - mungkin aku hanya melakukan apa yang telah menjadi sesuatu yang harus aku lakukan.
Saat engkau memutuskan untuk memilih dan melanjutkan perjalananmu dengan seseorang itu - hatiku merasa bahwa engkau telah berlaku tidak adil terhadapku - walaupun dari sisimu, itu semua engkau lakukan karena engkau harus memilih resiko yang paling sedikit dari berbagai kemungkinan resiko yang akan engkau hadapi. Tapi begitulah, aku selalu merasa bahwa - engkau hampir - tidak akan menghadapi resiko sama sekali bila melanjutkan perjalanan bersamaku. Ironis bukan? Aku - yang dengan gagah perkasa mengatakan "ayo pilihlah aku, dan aku jamin kamu akan menjadi bahagia bila memilih aku!" ternyata, itu - hanya merupakan iklan kecap yang selalu menyebut dirinya nomor satu, dimatamu.
Aku seorang lelaki, yang menurutmu tidak mungkin dimiliki olehmu (karena tidak sendiri lagi?), merasakan kecewa yang mendalam. Malam tahun baru kuhabiskan dengan penantian. Aku menunggu telepon ucapan selamat tahun baru darimu. Aku menunggu. Menungu dan menunggu. Tapi, ternyata ucapan melalui telepon itu tidak datang jua. Teleponku hanya berdering dari teman-teman dan orang lain. Sedangkan engkau, entah pergi kemana. Dirumahpun, aku tidak menemukanmu.
Esok harinya barulah ku ketahui engkau pergi bersama seseorang - yang dulu engkau katakan hanya teman biasa - menghabiskan malam akhir tahunmu di Tugu Monas sana. Sedangkan aku yang sejak awal mengajakmu, engkau tidak pedulikan sama sekali.
Sepertinya, masa-masa kita bersama telah berakhir. Masa-masa indah dalam kebersamaan kita, sudah tidak ada lagi. Aku sudah siap menerima perpisahan ini, kalau memang itu harus terjadi.
Bila suatu saat, kita bertemu lagi dan engkau nanti melihat aku bahagia, maka aku akan berterima kasih kepadamu, karena berarti pilihan dan keputusan yang engkau 'ambilkan' buatku adalah sangat tepat.
Begitupun, bila suatu saat nanti kita bertemu lagi dan engkau melihat aku seperti tidak bahagia, maka akupun berterima kasih kepadamu, karena berarti aku telah mendapat pelajaran tentang cara membuat keputusan dan membuat pilihan (walau mungkin kamu akan berkata, 'sudah terlambat' untuk memilih dan memutuskan).
Nanti, engkau pasti menjadi bagian keputusan dan pilihan yang akan aku anggap 'sangat' menentukan dalam bagian-bagian perjalananku.
Begitupun dengan siapa yang akan menjadi 'pilihan' dan siapa (beruntung?) yang aku ajak untuk mengambil 'keputusan' nantinya, pasti akan menjadi 'bagian' yang sangat menentukan dalam bagian-bagian perjalananku yang lainnya.
Kenapa?
Karena engkau, dia, dia ..... dan dia yang lainnya ternyata adalah bagian-bagian penting dari kisah perjalanan kehidupanku...


Surat terbuka untuk seseorang wanita di Perum Tangerang sana.
Disadur dari: pesona ilalang liar. terima kasih ilalang liar

Friday, November 05, 2004

Belajar Mengerti 

Tadi malam, saya membuka diary online yang saya buat di salah satu blog. Tulisan itu sebenarnya sudah lama sekali. Sehingga waktu saya membacanya, saya jadi teringat secara detil apa yang terjadi saat itu. Ternyata, diary online BUKAN HANYA mengingatkan cerita masa lalu kita, tetapi juga memberikan banyak makna, termasuk diantaranya bagi saya untuk belajar mencari pengertian tentang hakikat hidup dan cinta.
Memang sulit membuat pengertian yang sama (same) tentang hidup dan cinta, tetapi paling tidak kita bisa membuat suatu kata yang mendekati sama / mirip (similar).


Tuesday, August 31, 2004

KORAN SENTANA, DIMANA KAMU??? 

Tanggal 21 Agustus 2004 yang lalu aku mengirimkan surat komplain ke Redaksi Sentana, karena telah memuat ceritaku ini di koran mereka tanpa ijin baik lisan maupun tertulis. Dalam Surat itu saya meminta penjelasan (HAK JAWAB dari Sentana) mengapa Cerita Diary Online saya itu bisa di MUAT di koran mereka.
Aku merasa Sentana ADALAH PLAGIAT. Karena mengcopy dan memuat seluruh isi cerita tersebut, tanpa merubah nama, tempat dan lokasi kejadian. Saya sangat kecewa, karena sampai dengan sekarang, 31 Agustus 2004, mereka tenang-tenang saja, tidak melakukan tindakan apa-apa. Bahkan meminta maaf pun mereka tidak lakukan.
Tadi aku kembali mengirimkan surat komplain kepada mereka, dan tetap menuntut mereka untuk meminta maaf kepada saya dan objek yang ada dalam cerita yang mereka sebarkan di dalam koran tersebut. Serta saya minta ganti kerugian atas dampak yang disebabkan, dan minta ganti hak atas tulisan saya.
Melalui tulisan online ini saya kembali menghimbau kepada PIMPINAN REDAKSI SENTA, IBU RUKIAH ROSALYNA SIAHAAN UNTUK MEMENUHI TUNTUTAN SAYA.

note: belajar dari Pengalaman ini, nama-nama pada cerita2 sebelumnya terpaksa saya rubah/edit.

This page is powered by Blogger. Isn't yours?